Ratu Rizkitasari Saraswati

Optik-Optik Kecil: Participatory performance by artist Ratu Rizkitasari Saraswati occurring on four separate mornings during the fasting month of Ramadhan. Participants gathered at Rumah Tangga from 5-8am to collect the morning dew.

______________________________________________________________________________

Mengunjungi Waktu yang Hilang: Renungan Selepas Optik-Optik Kecil

Ibrahim Soetomo

Subuh itu tampak biru, dingin dan basah. Azan tengah berkumandang, dan hari telah memasuki saum. Jumlah kami masih sedikit, sekitar lima atau enam orang. Ratu Saraswati, seniman penggagas kegiatan yang akan kami lakukan dalam waktu dekat, sudah terlebih dahulu berjalan-jalan mengitari pekarangan. Saya menghampirinya, bertanya, apakah kami bisa memulai, atau baiknya menunggu tamu yang lain. Nyatanya ia mempersilakan. Lantas, dari teras rumah, kami beranjak menyusuri pekarangan. Ada yang membawa botol plastik, dan ada yang telah menyiapkan botol kaca. Kami berpencar, dalam subuh yang syahdu, menuju rerumputan dan ilalang: mencari embun.

Day 1: May 12, 2019

Kegiatan ini bertajuk Optik-Optik Kecil. Saras mengundang kita untuk datang pukul 5 – 8 pagi ke Rumah Tangga — sebuah kediaman, studio, sekaligus ruang seni dan gagasan kemilikan seniman Ella Wijt dan Kurt Peterson yang bertempat di Depok — untuk mengoleksi embun pagi ke dalam sebuah wadah bening, dari subuh hingga matahari terbit, sekaligus meresapi suasana dan pergeseran waktu yang kelak terjadi. Saras cukup banyak mengadakan performans yang melibatkan tamu-tamunya. Performans Pelayanan Membasuh (2014 – 2015), Untitled (Sugarcane Piece) (2016) dan Gulai (2018) memiliki metode demikian. Namun, pada karya-karya tersebut, interaksi selalu berjalan dua arah; Saras berdialog dengan tamu yang ada di hadapannya. Kali ini, di Optik-Optik Kecil, Saras berupaya memperluas pola interaksi menjadi lebih dinamis, dengan jumlah orang yang lebih banyak. Ia bahkan memberi porsi kehendak yang lebih luas pada tamunya, pada kami, yang kala itu bebas menyusuri pekarangan dan mengambil embun di sudut-sudut yang kami inginkan.

Kegiatan ini adalah kali yang kedua. Pada kedatangan kami, Rumah Tangga telah membuka jalur pekarangan baru berupa jalan setapak di sebelah kiri gerbang rumah jika kita masuk dari luar. Pembukaan jalur ini merupakan inisiatif serta bentuk kolaborasi antara Saras dan Rumah Tangga dalam memberi pengalaman ruang bagi tamunya. Kita diajak untuk membangun hubungan jiwa-raga dengan pekarangan dan seisinya, dengan aneka benda alam yang kita temui selama penelusuran, dan terkhususnya dengan Si Optik-Optik Kecil yang terhampar tak terhitung jumlahnya di pekarangan ini.

Day 2: May 19, 2019

Rumah Tangga memiliki pekarangan luas dengan jalur yang menyilang sana-sini. Ilalangnya dibiarkan tumbuh subur dan rimbun, seperti rambut lurus seorang lelaki gondrong yang disisir kesana-kemari. Karena saat subuh langit masih biru gelap, rumput dan ilalangnya pun nampak biru gelap, dan kala itu fajar belum tiba, ia datang belakangan, sedangkan satu-satunya sumber cahaya yang hadir berasal dari sebuah lampu putih di salah satu sudut pekarangan. Saya menghampiri daerah yang tersorot lampu itu. Ilalangnya memang tidak setinggi yang lain, namun ketika saya merukuk, berjongkok, dan memperhatikan tubuh-tubuh ilalang dari dekat, saya melihat embun-embun itu, bergumpal-gumpal, bak bintik-bintik cahaya yang terciprat dari langit malam. Ada embun yang menggantung di ujung-ujung daun, dan ada pula yang menempel di lembar-lembarnya. Saya lalu membuka stoples kaca yang saya bawa dari rumah, mengambil selembar daun ilalang, kemudian perlahan menundukkan ujungnya ke lubang stoples. Embun itu menetes ke dalam.

Entah kapan terakhir kali saya melihat dan merasakan embun, mungkin bertahun-tahun lalu ketika bangun subuh masih rutin. Sekarang, saya menganut pola sirkadian yang berbeda; saya tidak bangun sepagi itu lagi. Sehingga, suasana Minggu kemarin terasa baru. Tubuh saya menganggap subuh itu asing dan mencoba beradaptasi. Waktu itulah pertama kalinya saya memperhatikan embun dengan penuh kesadaran, menganalisis bentuknya yang buntal, sesekali sintal, seperti kristal, sekaligus merasakan keringkihannya ketika rumahnya, yaitu dedaunan dan bunga-bunga ilalang, bergerak atau memiliki daya. Saya dapat merasakan kebasahan dan kesejukannya ketika ia menyentuh kulit. Semakin saya mengumpulkannya, semakin saya mengenal wataknya, rasanya seperti berkenalan dengan teman baru, atau bertemu kembali dengan kerabat masa kecil dulu.

Day 3: May 25, 2019

Ada kalanya saya gagal ketika embunnya pecah di tengah jalan, atau terlanjur tergelincir ke tanah. Ada juga kalanya saya menemukan sebutir embun yang menetap di tengah-tengah lembar daun, dan ketika saya mengayunkan daun itu ke arah stoples, saya dapat menyaksikan embun itu turun dan meluncur dalam satu garis lurus, dan sesampainya ia di ujung daun, ia berhenti sejenak, menggantung seakan enggan pergi dari rumahnya, dan pada detik ini kita dapat mengamati perubahan bentuknya; embun yang tadinya bulat sempurna, kini melonjong ke bawah, tertarik gravitasi, hingga akhirnya ia lepas dan jatuh ke dalam stoples karena tidak kuat lagi. Ada perasaan puas, kontemplatif, sekaligus terapeutik, yang merekah dari dalam diri selagi menjalankan kegiatan ini.

Langit menerang. Di atas sana, di ruang yang tanpa ujung itu, rona-rona oranye kemerahan mulai tampak. Tamu-tamu lain berdatangan, dari teman dalam lingkar seni, teman semasa sekolah dulu, bahkan keluarga. Saya bertegur sapa, mereka bertegur sapa. Air mukanya tampak segar, seakan mengabaikan bahwa subuh tadi mereka harus merelakan diri bangun lebih awal, dan tak lekas tidur selepas sahur. Semua datang atas satu ajakan sederhana: mengumpulkan embun. Saras tidak menitahkan kita untuk mengisi wadahnya hingga penuh, dan tidak pula meminta menyelesaikan kegiatan ini hingga tepat delapan pagi. Saras tidak mengejar kuantitas; Ia tidak menghendaki jumlah. Ia justru ingin memberi momen; mengajak kita menikmati kembali potongan waktu yang hilang, yang kini luput dari keseharian kita. Di pagi itu, selain menghirup harum rumput dan tanah segar, saya dapat mengendus aroma nostalgia yang tercipta dari interaksi mereka.

Pada akhirnya, Optik-Optik Kecil menjadi lebih dari sekadar mengumpulkan embun. Optik-Optik Kecil menyiratkan keintiman, baik yang tercipta dari dalam diri selagi mengalami momen kontemplatif, seperti berdialog dengan diri sendiri dalam keheningan, maupun dengan orang lain ketika berpapasan di tengah pencarian dan memulai perbincangan. Kita juga berkesempatan mengunjungi penggalan waktu terabaikan bernama subuh; suatu penggalan hari dengan rasa dan nuansa yang begitu purba karena tak ada apa-apa. Tak terasa, subuh yang tadinya gelap berubah terang, menerang, kian terang, hingga ia sepenuhnya hilang. Ketika matahari menaik, udara menghangat, dan embun mencair, saya sadar bahwa keajaiban telah sirna. Di luar sana, di Jalan Leuwinanggung, mulai terdengar laju kencang kendaraan bermotor, menoreh jalanan yang luas dan sepi. Kita sadar peradaban telah tiba, dan subuh tadi serasa eskapisme belaka.

Day 4: May 26, 2019

Selepas kegiatan, saya dan beberapa rekan berkumpul. Kami saling memperlihatkan hasil tangkapan kami. Tangkapannya memang tidak banyak. Tangkapan terbanyak paling banter seperempat wadahnya. Tentu, untuk mengumpulkan embun hingga sewadah penuh membutuhkan subuh yang lebih banyak lagi. Namun, rasanya kami tidak menghiraukan itu. Kami puas dan merasa cukup. Optik-Optik Kecil seakan mengamalkan falsafah saum; ia mengondisikan kita untuk menjadi sadar dan perhatian terhadap diri dan lingkungan dalam situasi yang serba sembada. 

Saras menghendaki kami untuk membawa pulang tangkapan kami sebagai hadiah, sebagai bentuk penghargaan diri atas kegiatan ini. Sedangkan saya menerjemahkan kehendak itu sebagai pengingat akan pentingnya keintiman; tentang momen yang walau sebentar — se-sebentar transisi subuh hingga matahari terbit —  namun begitu berharga. Kedepannya, saya pikir, inilah saatnya kita mencari dan menciptakan momen yang serupa. Mari memetik gagasan Optik-Optik Kecil lalu mengemasnya ke dalam bentuk apapun, dimanapun, sebelum ia tergerus percepatan zaman, sebelum ia hilang tergantikan gaya hidup plastik yang kita jalani hari ini. Ibrahim Soetomo

photos: day 1, 3 & 4: Patar Pribadi // day 2: Tober Hasudungan

______________________________________________________________________________

______________________________________________________________________________

Ratu Rizkitasari Saraswati was born on January 6, 1990 in Jakarta, Indonesia

Having participated in numerous exhibition since 2009, Saraswati has begun to put her passion towards the making of performance videos and live performances since 2011. She graduated from Institut Teknologi Bandung Faculty of Art and Design and received her Bachelor of Art in Printmaking in 2013. In the same year, she was one of the finalists of Indonesia Art Award. In 2015, she completed a 6-months art residency in San Art, Ho Chi Minh City, Vietnam. She is currently living and working in Jakarta, her hometown.

Saraswati’s focus is to revisit the interpersonal values of art. The meaningful encounters developed from the individual, collaborative, and participatory performance are what are most valuable in her practice. She believes that artistic endeavors are expansive for human empathy and a sincere common ground within the realm of the psyche. Her works are the results of her continuous reflections upon her mental health condition. Throughout the years, it has shaped her interpretations of both her personal experiences and collective narratives, sharing what often remains taboo amid today’s increasing intolerance. Within the journey, she has discovered that the profound relationships built through art making are leading her to a deeper truth of owning our wellness. Art has the ability to repair the social bond between humans, and the principal of her artistry is to become the medium of that process.

In Bahasa Indonesia, the phrase ‘Tanah Air’ refers to our homeland or motherland and nation. The direct English translation of ‘Tanah Air’ is soil (and) water – two words that define our natural archipelago. In ’Optik-Optik Kecil’ (‘Tiny Optics’), the artist welcomes participants in a familiar yet uncanny landscape of our current habitat, toward the intersections between stories that resonate throughout our activated senses.

The event will be conducted beginning at dawn of the days during the fasting month, Ramadhan. This participatory gathering implies a chance to devote ourselves to the present time, allowing the world around us to disclose its secrets. In ‘Optik-Optik Kecil’, Saraswati makes a plea to regain our collectivity through dialogues of perspectives or ‘ways of seeing’ which is the essential substance of living. Hence, we can work towards bringing the ideas of the godly garden to our own land.

For more about the artist please check her website: www.ratusaraswati.com

Filter by Tags
The Latest 30 Posts
The Monthly Archive